WASPADAI ANGIN KENCANG DAN PUTING BELIUNG

Bulan Oktober merupakan peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan. DIY diperkirakan memasuki musim hujan pada bulan November dasarian I. Dua dasarian sebelumnya, Oktober dasarian II dan III, Yogyakarta telah memasuki masa perubahan musim. Biasanya perubahan musim ini diikuti oleh adanya perubahan arah angin. Pola arah angin tidak menentu karena arah angin mengalami perubahan dari angin muson timur berubah menjadi angin muson barat.
Pada masa peralihan musim kemarau ke musim hujan, biasanya pagi hingga siang matahari menyinari bumi secara maksimal dengan kondisi keawanan “clear”. Namun setelah siang hari mulai terbentuk awan, sehingga pantulan radiasi matahari oleh bumi tidak bisa keluar ke angkasa karena terjebak oleh awan. Akibatnya kita akan merasa kegerahan. Terbentuknya awan karena suhu muka laut di perairan selatan Jawa menghangat, sehingga dengan bantuan sinar matahari terjadi penguapan. Air menguap dan terkondensasi membentuk awan. Karena pasokan energy matahari sangat besar, maka penguapan juga terjadi secara maksimal. Pada saat ini di Jawa belum terbentuk awan-awan hujan karena angin masih berasal dari Australia yang bersifat kering. Jika dicermati, hujan pada awal-awal musim hujan terjadi pada siang hingga sore, sedangkan pagi cerah. Namun bila sudah memasuki pertengahan musim hujan, hujan bisa terjadi dari pagi hingga sore bahkan malam hari.
Menilik kondisi cuaca pada saat ini, posisi matahari berada tepat di atas pulau Jawa bagian selatan. Hal ini mengakibatkan radiasi matahari diterima secara maksimal oleh kita. Bentuk topografi pulau Jawa yang beranekaragam, mulai dari dataran, perbukitan, hingga pegunungan, maka pembagian panas tidak merata. Karena suhu daerah satu dengan daerah lain berbeda, maka tekanan pun berbeda. Semakin tinggi suhu udara suatu tempat, semakin rendah tekanan udaranya. Udara bergerak dari tekanan tinggi menuju tekanan rendah. Semakin besar perbedaan suhu antara dua tempat, maka semakin tinggi kecepatan angin yang berhembus. Hal ini terjadi pada hari senin, 19 Oktober 2009. Sebagian besar kota di Pulau Jawa mengalami peningkatan suhu udara yang bisa dikatakan cukup ekstrim, yaitu melebihi 35oC.
Pada musim hujan mulai muncul awan-awan rendah seperti awan Cumulus (Cu), Cumulonimbus (Cb), Nimbostratus (Ns), Stratocumulus (Sc). Awan-awan tersebut adalah awan penghasil hujan. Yang perlu diwaspadai adalah awan berjenis Cumulonimbus atau sering disebut awan Cb. Awan ini berbentuk gumpalan membumbung tinggi, pada bagian bawah berwarna kelam, sedangkan puncaknya berwarna putih. Awan ini sering disebut awan badai karena bisa menimbulkan badai atau hujan disertai angin kencang dan petir. Perlu diwaspadai apabila kita sudah melihat awan tersebut, hendaknya kita menjauhi awan tersebut atau berlindung pada bangunan yang kokoh. Jangan berlindung di bawah pohon atau di dalam bangunan yang mempunyai pondasi tidak kuat. Karena awan ini bisa menimbulkan angin kencang yang dapat mengancurkan bangunan semi permanen dan menumbangkan pepohonan.

CUACA PANAS DAN ANGIN KENCANG DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 19 Oktober 2009

Kondisi cuaca di Yogyakarta pada tanggal 19 Oktober 2009 adalah cerah berawan. Berdasarkan pantauan dari termometer manual di Stasiun Geofisika Yogyakarta, pada siang hari suhu udara mencapai 38.7oC yang dirasakan cukup panas oleh sebagian masyarakat Yogyakarta, sedangkan menurut rekaman Automatic Weather Station (AWS)suhu tertinggi mencapai 39.9oC. Menurut laporan dari komunitas radio Turgo Asri telah terjadi angin kencang pada pukul 10.00 WIB di wilayah Tritis, Purwobinangun, Pakem dan Kinahrejo, Cangkringan – Sleman. Angin tersebut telah memporak porandakan beberapa rumah warga berupa jatuhnya atap rumah dan pohon tumbang, namun dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa.

Suhu udara yang dirasakan oleh masyarakat Yogyakarta begitu panas dikarenakan posisi matahari yang berada tepat di Pulau Jawa. Disamping itu, kondisi keawanan di pulau Jawa dapat dikatakan bersih dari liputan awan, sehingga radiasi matahari langsung mengenai bumi dengan energy yang maksimal. Dari pantauan citra satelit menunjukkan Pulau Jawa bersih dari liputan awan. Karena tidak ada “penghalang” maka radiasi matahari langsung mencapai bumi. Relief permukaan bumi di Pulau Jawa sangat bervariasi, mulai dari dataran sampai pegunungan. Karena adanya perbedaan relief, maka radiasi matahari akan diterima daerah satu dengan daerah lain akan berbeda-beda. Karena adanya perbedaan penerimaan radiasi matahari, maka suhunya berbeda-beda, sehingga mengakibatkan perbedaan tekanan antara daerah satu dengan daerah lainnya. Perbedaan tekanan inilah yang mengakibatkan terjadinya angin. Semakin besar perbedaan tekanan udara, maka semakin kencang angin yang berhembus.

1255

Secara global, berdasarkan pantauan streamline, di belahan bumi utara banyak ditemukan daerah bertekanan rendah, sedangkan di belahan bumi selatan, tepatnya di Australia bagian selatan terdapat daerah bertekanan tinggi. Angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Dengan demikian, secara regional, angin bertiup dari Australia ke belahan bumi utara menuju daerah bertekanan rendah. Hal ini memicu terjadinya angin di Yogyakarta dan sekitarnya mejadi bertambah kencang.

Dalam kondisi yang demikian, kecil kemungkinan terjadi angin puting beliung, karena angin puting beliung hanya muncul dari awan Cumulonimbus (awan Cb). Disamping awan Cb dapat menimbulkan angin puting beliung, awan ini bisa mengakibatkan hujan lebat, angin kencang dan petir.

Menurut prakiraan BMKG, musim hujan untuk daerah Yogyakarta jatuh pada bulan November dasarian I. Pada saat ini Yogyakarta sudah memasuki peralihan musim. Untuk itu, kepada masyarakat DIY diharapkan meningkatkan kewaspadaannya, karena pada masa peralihan musim biasanya terjadi angin kencang. BMKG menghimbau kepada masyarakat DIY khususnya untuk melakukan pemotongan cabang pohon yang terlalu rimbun serta memperkuat atap dan pondasi pada bangunan semi permanen.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.