Kondisi cuaca di Yogyakarta pada tanggal 19 Oktober 2009 adalah cerah berawan. Berdasarkan pantauan dari termometer manual di Stasiun Geofisika Yogyakarta, pada siang hari suhu udara mencapai 38.7oC yang dirasakan cukup panas oleh sebagian masyarakat Yogyakarta, sedangkan menurut rekaman Automatic Weather Station (AWS)suhu tertinggi mencapai 39.9oC. Menurut laporan dari komunitas radio Turgo Asri telah terjadi angin kencang pada pukul 10.00 WIB di wilayah Tritis, Purwobinangun, Pakem dan Kinahrejo, Cangkringan – Sleman. Angin tersebut telah memporak porandakan beberapa rumah warga berupa jatuhnya atap rumah dan pohon tumbang, namun dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa.
Suhu udara yang dirasakan oleh masyarakat Yogyakarta begitu panas dikarenakan posisi matahari yang berada tepat di Pulau Jawa. Disamping itu, kondisi keawanan di pulau Jawa dapat dikatakan bersih dari liputan awan, sehingga radiasi matahari langsung mengenai bumi dengan energy yang maksimal. Dari pantauan citra satelit menunjukkan Pulau Jawa bersih dari liputan awan. Karena tidak ada “penghalang” maka radiasi matahari langsung mencapai bumi. Relief permukaan bumi di Pulau Jawa sangat bervariasi, mulai dari dataran sampai pegunungan. Karena adanya perbedaan relief, maka radiasi matahari akan diterima daerah satu dengan daerah lain akan berbeda-beda. Karena adanya perbedaan penerimaan radiasi matahari, maka suhunya berbeda-beda, sehingga mengakibatkan perbedaan tekanan antara daerah satu dengan daerah lainnya. Perbedaan tekanan inilah yang mengakibatkan terjadinya angin. Semakin besar perbedaan tekanan udara, maka semakin kencang angin yang berhembus.

Secara global, berdasarkan pantauan streamline, di belahan bumi utara banyak ditemukan daerah bertekanan rendah, sedangkan di belahan bumi selatan, tepatnya di Australia bagian selatan terdapat daerah bertekanan tinggi. Angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Dengan demikian, secara regional, angin bertiup dari Australia ke belahan bumi utara menuju daerah bertekanan rendah. Hal ini memicu terjadinya angin di Yogyakarta dan sekitarnya mejadi bertambah kencang.
Dalam kondisi yang demikian, kecil kemungkinan terjadi angin puting beliung, karena angin puting beliung hanya muncul dari awan Cumulonimbus (awan Cb). Disamping awan Cb dapat menimbulkan angin puting beliung, awan ini bisa mengakibatkan hujan lebat, angin kencang dan petir.
Menurut prakiraan BMKG, musim hujan untuk daerah Yogyakarta jatuh pada bulan November dasarian I. Pada saat ini Yogyakarta sudah memasuki peralihan musim. Untuk itu, kepada masyarakat DIY diharapkan meningkatkan kewaspadaannya, karena pada masa peralihan musim biasanya terjadi angin kencang. BMKG menghimbau kepada masyarakat DIY khususnya untuk melakukan pemotongan cabang pohon yang terlalu rimbun serta memperkuat atap dan pondasi pada bangunan semi permanen.


